Jalanmulia Tours Indonesia

Academic November 1st, 2012

Jalanmulia Tours Indonesia atau yang biasa dikenal dengan nama JMtours® adalah perusahaan penyelenggara perjalanan wisata untuk Mahasiswa atau Pelajar dengan menggunakan konsep ‘Responsible Tourism’ yang Edukatif dan Ramah Lingkungan. Setap tahunnya JMtours® selalu mengadakan perjalanan wisata baik Domestik, maupun mancanegara. JMtours® sebagai operator wisata yang professional telah bekerjasama dengan berbagai stakeholders seperti IPB, Gn.Walat University Forest, KPE, dan IOM. JMtours® saat ini berkantor pusat di Bogor, Jawa Barat. Tepatnya di Jl. Babakan Tengah No.87 Darmaga, Bogor 16680 Jawa Barat – INDONESIA.

 

Saat ini JMtours® telah memiliki berbagai macam layanan seperti JMtour, JMticketing, JMoutbound, JMbusrent, JMcarrent, dan JMagents. JMtour merupakan layanan utama dari JMtours® yaitu berupa paket wisata ke berbagai tempat baik dalam maupun luar negeri. Beberapa contoh produk kami seperti ‘Amazing Snorkeling @PulauTidung Kep. Seribu 2D1N’, dan ‘Fantastic SINGAPORE Holiday Tour’. Juga melayani Custom Tour untuk berbagai keperluan seperti Upgrading, Makrab, jalan-jalan dan lain-lain. JMticketing melayani pemesanan tiket pesawat baik domestic maupun mancanegara. Saati ini telah tersedia beberapa Airline served seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Merpati, Batavia, Sriwijaya Air, Citilink, dan Air Asia. Pemesanan tiket bisa dilakukan online melalui website kami, langsung ke tempat kami atau melalui agen operaTour JMtours® dimanapun berada. Ini semua untuk memudahkan client untuk memanfaatkan layanan kami. JMoutbound memberikan layanan perjalanan untuk keperluan outbound dan team building. Kegiatan terpusat di Gn.Walat University Forest, dan Arus Liar Citarik, Sukabumi. Dalam menjalankan kegiatan outbound JMtours® didukung oleh IOM (IPB Outbound Management) sehingga tersistematis dan lebih professional. Layanan ini cocok digunakan untuk organisasi seperti BEM, Himpro, Omda dll untuk memperkuat internal tim. JMbusrent merupakan layanan penyewaan Bus Pariwisata untuk berbagai keperluan. JMtours® telah bekerjasama dengan beberapa perusahaan penyedia bus untuk daerah jawa barat dan sekitarnya. Kami menawarkan bus dengan berbagai tipe, ukuran, dan kelas, sehingga customer dapat memilih sendiri spesifikasi bus seperti apa yang dibutuhkan demi kenyamanan bersama.  JMcarrent merupakan layanan penyewaan Mobil khusus untuk daerah bogor. Tersedia berbagai tipe mobil mulai dari sedan, MPV, Minibus, hingga mobil mewah. Pemesanan juga sangat mudah dilakukan. JMagents merupakan program keagenan yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menjadi agen kami dalam memasarkan semua produk JMtours®. Hanya membayar proses administrasi dan bisa langsung menjual produk kami dengan bagi hasil yang menguntungkan. Semua layanan JMtours® ini dapat dipesan melalui website resmi kami www.jalanmulia.web.id, melalui email info@jalanmulia.web.id, melalui twitter @JMtoursid, melalui SMS ke 081244883310, melalui Agent operaTour dimanapun berada, atau langsung datang ke kantor kami di Jl. Babakan Tengah No.87 Darmaga, Bogor. Untuk pembayaran dapat dilakukan melalui transfer ke Bank Account kami (BCA, Mandiri, BNI). Dalam perkembangannya nanti JMtours® juga akan mengembangkan beberapa layanan dan produk lain seperti JMinternational, JMumrah, JMdocument, JMecobag, JMbottle, JMshirt, dan lain-lain.

 

JMtours® merupakan salah satu bagian perusahaan dari Mega Company DYPTA GROUP®. Beberapa kelebihan JMtours® dibanding operator wisata lain yaitu, (1) Prosesnya yang sangat mudah, dan tidak membutuhkan waktu lama, calon customer tinggal mengunjungi website kami http://www.jalanmulia.web.id, melakukan pemesanan online, dan melakukan transaksi tunai atau via transfer. (2) Harga Terjangkau dan dapat dicicil. Kami menawarkan berbagai kegiatan wisata dengan harga yang sangat terjangkau dan  juga bisa dicicil hingga batas waktu tertentu. (3) Perjalanan Aman dan Menyenangkan dengan Fasilitas lengkap. Setiap perjalanan kami menerapka safety procedure untuk menjaga keselamatan pengunjung. Selain itu, kami memberikan fasilitas yang lengkap dan memadai untuk memberikan kenyamanan pada konsumen. (4) Bersifat Edukatif dan Ramah Lingkungan. Selama perjalanan JMtours® juga menerapkan konsep Responsible Tourism dengan mengedukasi pengunjung untuk menerapkan perilaku wisata hijau, atau wisata yang bertanggung jawab seperti penggunaan goodey bag sebagai pengganti plastik, membuang sampah pada tempatnya, hemat listrik, hemat air, dan lain sebagainya.  (5) Dapatkan Berbagai Souvenir dan Hadiah Menarik Lainnya. Di setiap perjalanan bersama JMtours® kami juga sering membagikan souvenir atau hadiah-hadiah sebagai buah tangan untuk para pengunjung yang telah mempercayakan kepada kami sebagai Tour Organizernya. (6) Berbagi Keuntungan untuk Kegiatan Sosial ataupun Lingkungan Hidup. Selain sebagai perusahaan yang profit oriented, JMtours® juga social oriented, terbukti JMtours® aktif dalam melaksanakan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, dan kegiatan-kegiatan hijau lainnya untuk melestarikan bumi, alam, satwa, dan semua kekayaan alam Indonesia.

 

Segera nikmati perjalanan wisata tak terlupakan bersama Jalanmulia Tours Indonesia

 

Feel the Great Sensation of Touring with…… JMtours®

Make your tour MORE meaningful!

JMmanagement

KOMPOSISI JENIS TUMBUHAN PAKAN MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis Raffles 1821) DI ARBORETUM BAMBU KAMPUS IPB DRAMAGA

Academic, Lingkungan January 3rd, 2012

Follow@dkpradipta-Kampus IPB Darmaga sebagai kampus biodiversitas memiliki keaneragaman hayati yang tinggi, terutama satwaliar yang tersebar di beberapa tipe habitat. Adanya keanekaragaman tersebut memiliki peran yang penting untuk menjaga keseimbangan ekologi di kampus. Salah satu satwaliar yang terdapat di sini adalah Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dari genus Macaca yang dapat ditemukan di Arboretum Bambu. Arboretum Bambu yang menjadi habitat bagi monyet ekor panjang ini digunakan sebagai tempat makan, minum, dan tempat berlindung (cover).

Arboretum Bambu yang terletak di Kampus IPB Darmaga merupakan habitat bagi Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Vegetasi yang ada di Arboretum Bambu diantaranya seperti bambu (Bambusea sp.), pohon belimbing (Averroa carambola), pohon krey payung (Filicium decipiens), pohon rambutan (Nephelium lappaceum), pohon sengon (Paraserianthes falcataria), sawit (Elaeis guineensis) dan karet (Hevea brasiliensis) serta aliran sungai kecil di sekitar tegakkan karet pinggir Arboretum Bambu.

Fungsi pakan sangat erat hubungannya dengan kehidupan satwaliar terutama Macaca fascicularis. Dalam kehidupan Macaca fascicularis pakan merupakan tonggak utama dalam kehidupan guna berkembangbiak. Menurut Fooden (1969), sub spesies Macaca fascicularis yaitu long tailed macaque mempunyai habitat di daerah pegunungan. Berbeda dengan sub spesies crab eating macaque yang berhabitat di daerah pantai. Karena habitatnya yang berada di daerah pegunungan, monyet ekor panjang tersebut cenderung memakan dedaunan dan buah-buahan yang berada di pegunungan. Menurut Hadinoto (1993), kebutuhan pakan monyet ekor panjang setiap ekor perhari sebanyak 4% dari bobot tubuhnya, serta memerlukan air untuk minum sebanyak 1 liter per ekor setiap harinya.

Monyet ekor panjang termasuk jenis satwa omnivora. Menurut Roonwal dan Mohnot (1977) kera ini sangat bergantung pada tumbuhan, terutama buah sebagai sumber pakannya; namun, bila tersedia dapat saja mereka makan Crustaceae dan Moluska serta makan serangga. Bila dirinci berdasarkan bagian tumbuhan yang dimakan, maka menurut Aldrich-Blake (1980) dapat diketahui komposisi pakan Monyet ekor panjang sebagai berikut: 57 % bagian reproduksi tumbuhan, 19,0 % bagian vegetatif tumbuhan , dan selebihnya (23,3 %) bahan lain (misalnya seranga). Khusus untuk jenis tumbuhan dilaporkan pula bahwa  61 % sumber pakan berasal dari pohon dan 39 % berasal dari tumbuhan merambat (Hasanbahri, dkk 1996)

Bila dibandingkan dengan habitat alaminya di hutan alam, Arboretum bambu yang berada dalam wilayah kampus IPB darmaga, dekat dengan pemukiman warga, dan sedang dilaksanakannya beberapa proyek pembangunan membuat kondisi yang tidak stabil dan mengganggu aktivitas dari Monyet ekor panjang itu sendiri. Kondisi ini yang menarik untuk diteliti mengapa satwa Monyet ekor panjang masih mampu hidup dan berkembang biak. Walaupun, di arboretum bambu masih tersedianya tegakan karet, bambu, dan belimbing yang tampak selalu hijau. Atas dasar tersebut, pengamatan dilakukan terhadap jenis tumbuhan yang merupakan sumber pakan bagi Monyet ekor panjang.

Kondisi Habitat

Dari pengamatan yang telah dilakukan diketahui vegetasi yang ada di Arboretum Bambu diantaranya seperti bambu (Bambusea sp.), belimbing (Averroa carambola), krey payung (Filicium decipiens), sengon (Paraserianthes falcataria), sawit (Elaeis guineensis) dan karet (Hevea brasiliensis) serta aliran sungai kecil di sekitar tegakkan karet pinggir Arboretum Bambu. Kondisi arboretum yang seperti ini sangat cocok sebagai habitat dari Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) karena memiliki komponen-komponen yang sangat dibutuhkan yakni cover, tempat makan dan minum.

Komposisi Jenis Tumbuhan Pakan

Jenis tumbuhan yang dijumpai di lokasi pengamatan ada sekitar 8 jenis yang termasuk dalam 7 famili. Famili yang terdapat di Arboretum Bambu ialah Euphorbiceae (Hevea brasiliensis), Dipterocarpaceae (Shorea sp.), Sapindaceae (Filicium decipiens, Nephelium lappaceum).

Menurut (Hasanbahri, dkk 1996) diketahui bahwa bagian buah ternyata merupakan sumber pakan yang paling disukai oleh Monyet ekor panjang, kemudian diikuti bagian lain yaitu daun dan tangkai. Bagian-bagian tumbuhan tersebut disukai karena memiliki syarat yang diperlukan, yaitu daya kandungan air dan protein tinggi, penyebarannya tinggi, serta penyebaran jenis tumbuhan tersebut berada dalam daerah jelajah harian Monyet ekor panjang. Hal ini bertentangan dengan pengamatan yang telah dilakukan terhadap monyet ekor panjang di arboretum bambu. Hasil menunjukkan bahwa bagian daun (54%) ternyata paling disukai oleh monyet ekor panjang dibandingkan dengan bagian buah (25%) dan pangkal daun (21%).

Kondisi ini disebabkan karena habitat di arboretum bambu yang didominasi oleh tumbuhan dedaunan seperti karet dan bambu. Selain itu, buah yang menjadi pakan monyet ekor panjang tergantung dari saat atau musim buah dihasilkan seperti belimbing dan rambutan. Hal ini dapat disebabkan karena waktu pengamatan yang bertepatan pada saat tidak terjadinya musim berbuah. Khusus untuk jenis sawit, produksi buah hampir tersedia sepanjang tahun, terkecuali saat kemarau panjang. Sedangkan jenis penghasil buah seperti belimbing dan rambutan hanya tersedia saat musim buah.

Andi Dicky Pradipta (E34100025)

Mahasiswa S1, Departemen KSHE

Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor

Sebaran Fauna Zona Oriental Khususnya di Indonesia

Academic, Lingkungan January 3rd, 2012

Follow@dkpradipta-Biogeografi adalah ilmu yang mempelajari penyebaran organisme di muka bumi. Organisme yang dipelajari mencakup organisme yang masih hidup dan organisme yang sudah punah. Dalam biogeografi dipelajari bahwa penyebaran organisme dari suatu tempat ke tempat lainnya melintasi berbagai faktor penghalang. Faktor-faktor penghalang ini menjadi pengendali penyebaran organisme. Faktor penghalang yang utama adalah iklim dan topografi. Selain itu, faktor penghalang reproduksi dan endemisme menjadi pengendali penyebaran organisme.

Akibat dari hal tersebut di atas maka di permukaan bumi ini terbentuk kelompok-kelompok hewan dan tumbuhan yang menempati daerah yang berbeda-beda. Sebagai contoh bunga sakura tumbuh di Jepang, bunga tulip di Belanda, kera bekantan hidup di Kalimantan, burung maleo di Sulawesi dan Maluku. Sehingga tanaman dan hewan menjadi ciri khas pada suatu daerah di belahan bumi. Tanaman nanas yang berasal dari Amerika Utara tumbuh subur di Hawaii dan di Asia. Pohon bambu banyak yang hidup di sekitar Asia Barat. Luas daerah yang dapat ditempati tumbuhan maupun hewan, berkaitan dengan kesempatan dan kemampuan mengadakan penyebaran. Biogeografi mempelajari penyebaran hewan maupun tumbuhan di permukaan bumi. Ilmu yang mempelajari peyebaran hewan di permukaan bumi disebut zoogeografi.

Penyebaran hewan berdasarkan luas cakupannya dapat dibedakan menjadi cakupan geografis, cakupan geologis, dan cakupan ekologis. Cakupan geografis yaitu daerah penyebarannya meliputi daratan dan sistem perairan. Cakupan geologis, yaitu keadaan daratan dan lautan di masa lampau. Cakupan ekologis adalah daerah penyebarannya dengan kondisi lingkungan yang sesuai.

Ilmuwan kenamaan Inggris yang bernama Alfred Russel Wallace, pada tahun 1867 melakukan peyelidikan tentang persebaran hewan di muka bumi. Wallace mengemukakan bahwa permukaan bumi dapat dibagi menjadi enam kawasan persebaran hewan yang masing-masing ditandai dengan spesies-spesies yang unik. Enam kawasan tersebut adalah kawasan Neartik, Paleartik, Ethiopia, Oriental, Neotropik, dan Australia. Masing-masing daerah mempunyai ciri khas. Kekhasan ini disebabkan oleh faktor geografis, cuaca, iklim, dan lain sebagainya.

Zona Oriental yang tersebar di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan memiliki ciri khasnya masing-masing. Indonesia sendiri yang termasuk Zona Oriental terbagi lagi menjadi 3 bagian, Kawasan Sundaic di barat Indonesia, Kawasan Australis di timur Indonesia, dan Kawasan Wallacea di Indonesia bagian tengah yang merupakan peralihan dari kedua kawasan yang lain. Makalah kali ini akan menjelaskan lebih jauh mengenai Sebaran Fauna Zona Oriental Khususnya di Indonesia.

Sebaran Fauna di Indonesia

Jenis-jenis dan persebaran fauna di Indonesia sangat terkait dengan sejarah terbentuknya daratan di Indonesia berawal pada zaman es. Pada masa itu, wilayah Indonesia bagian Barat yang disebut juga Dataran Sunda masih menyatu dengan Benua Asia, sedangkan Indonesia bagian Timur yang disebut juga Dataran Sahul menyatu dengan Benua Australia. Dataran Sunda dan Dataran Sahul juga masih berupa daratan belum dipisahkan oleh laut dan selat.

Keadaan tersebut menyebabkan keanekaan flora dan fauna di Indonesia bagian Barat seperti Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sumatera pada umumnya menunjukkan kemiripan dengan flora di Benua Asia. Begitu pula dengan flora dan fauna di Indonesia bagian Timur seperti Irian Jaya dan pulau-pulau disekitarnya pada umumnya mempunyai kemiripan dengan flora dan fauna di benua Australia. Jadi, Indonesia pada masa itu menjadi jembatan penghubung persebaran hewan dari Asia dan Australia.

Kemudian, pada akhir zaman es, suhu permukaan bumi naik sehingga permukaan air laut naik kembali. Naiknya permukaan air laut mengakibatkan Jawa terpisah dengan Benua Asia, kemudian terpisah dari Kalimantan dan terakhir dari Sumatera. Selanjutnya Sumatera terpisah dari Kalimantan kemudian dari Semenanjung Malaka dan terakhir Kalimantan terpisah dari Semenanjung Malaka.

Seorang berkebangsaan Inggris bernama Wallace mengadakan penelitian mengenai penyebaran hewan bagian Barat dengan hewan di Indonesia bagian Timur. Batasnya di mulai dari Selat Lombok sampai ke Selat Makasar. Oleh sebab itu, garis batasnya dinamakan garis Wallace. Batas ini bersamaan pula dengan batas penyebaran binatang dan tumbuhan dari Asia ke Indonesia. Di samping itu seorang peneliti berkebangsaan Jerman bernama Weber, berdasarkan penelitiannya tentang penyebaran fauna di Indonesia, menetapkan batas penyebaran hewan dari Australia ke Indonesia bagian Timur. Garis batas tersebut dinamakan garis Weber. Sedangkan daerah di antara dataran Sunda dan dataran Sahul oleh para ahli biografi disebut daerah Wallace atau daerah Peralihan. Mengapa disebut daerah Peralihan? Karena di daerah ini terdapat beberapa jenis hewan Asia dan Australia, jadi merupakan daerah transisi antara dataran Sunda dan dataran Sahul

Zoogeografi di Indonesia

Seorang peneliti berkebangsaan Jerman bernama Weber, berdasarkan penelitiannya tentang penyebaran fauna di Indonesia, menetapkan batas penyebaran hewan dari Australia ke Indonesia bagian Timur. Garis batas tersebut dinamakan garis Weber. Sedangkan daerah diantara dataran Sunda dan dataran Sahul oleh para ahli biografi disebut daerah Wallace atau daerah Peralihan. Disebut daerah Peralihan karena di daerah ini terdapat beberapa jenis hewan Asia dan Australia, jadi merupakan daerah transisi antara dataran Sunda dan dataran Sahul. Misalnya di daerah Sulawesi juga terdapat hewan yang ada juga di Jawa, contohnya rusa dan monyet, sedangkan di Halmahera juga ada burung Cendrawasih yang ada di Irian Jaya.

Indonesia adalah suatu negara kepulauan yang terletak di antara 2 daerah biogeografi besar, yaitu antara daerah biogeografi Oriental dan daerah biogeografi Australian. Didasarkan kepada sejarah asal wilayah Nusantara beberapa pakar membagi wilayah Indonesia menjadi beberapa kawasan. Kawasan-kawasan tersebut adalah:

1. Kawasan Indonesia Barat (Sundaic): meliputi Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan. Hewan-hewannya menyerupai hewan daerah oriental, misalnya: gajah, harimau, orang utan, dan lain-lain. Fauna di wilayah Indonesia bagian barat banyak menyerupai daratan Asia.

2. Kawasan Indonesia Timur (Australis): meliputi Irian Jaya dan sekitarnya.
Hewan-hewannya menyerupai hewan di daerah Australia.

3. Kawasan Wallacea (Peralihan): meliputi wilayah Pulau Sulawesi, Kepulauan
Maluku, Sumba, Sumbawa, Lombok dan Timor. Memiliki hewan-hewan
khas (terutama di Pulau Sulawesi) tidak sama dengan hewan oriental
dan hewan Australia, misal: Anoa, burung Mako, kera hitam.

Andi Dicky Pradipta (E34100025)

Mahasiswa S1 Departemen KSHE

Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor

“Entrepreneurship is the result of a disiplined, systimatic process of applying creativity and innovations to satisfy need and opportunities of the marketplace“

Dampak Kebakaran Hutan bagi Kelangsungan Hidup Manusia dan Lingkungannya

Academic, Lingkungan January 3rd, 2012

Follow@dkpradipta-Upaya untuk menangani bencana kebakaran hutan dilakukan dalam dua cara yaitu penanganan yang bersifat represif dan penanganan yang bersifat preventif. Penanganan yang bersifat represif adalah upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi kebakaran hutan setelah terjadi bencana kebakaran hutan. Penanganan jenis ini misalnya pemadaman, proses peradilan bagi pihak-pihak yang diduga terkait dengan kebakaran hutan (secara sengaja), dan lain-lainnya. Sedangkan, penanganan yang bersifat preventif adalah setiap usaha, tindakan atau kegiatan yang dilakukan dalam rangka menghindarkan atau mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan (Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konversi Alam, 2002). Jadi, penanganan bencana kebakaran dapat dilakuka dengan kedua cara tersebut. Tindakan preventif sudah dilakukan oleh pemerintah begitu juga dengan tindakan represif seperti pemadaman dari udara dengan helikopter yang membawa kubikan air. Namun, upaya pemadaman tersebut juga sering mengalami kendala seperti asap yang tebal dan tiupan angin yang kencang sehingga sulit untuk memadamkan hutan dengan cepat. Selain itu, pelatihan pemadaman juga perlu diberikan agar pada saat menghadapi bencana kebakaran hutan tersebut sudah terkoordinasi cara menanganinya. Kemudian, pemerintah juga harus mengawasi atau melakukan pemantauan terhadap aparat atau kepolisian hutan atau yang bertanggungjawab terhadap pengolahan hutan di Indonesia agar senantiasa melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan agar tidak lalai dalam menjalankan tugasnya. Hal tersebut diperlukan karena banyak manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab seenaknya saja mengambil sumber daya alam yang ada di hutan tanpa memikirkan kelestarian hutan. Kesadaran masyarakat juga sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian hutan agat terhindar dari bencana kebakaran hutan yang tidak kita inginkan.

Kebakaran hutan di Indonesia sudah mencapai tingkat yang sangat perlu diperhatikan dan harus ditanggulangi secara serius karena sudah menjadi masalah yang global. Pemerintah mempunyai peran yang sangat besar dalam mengatasi masalah ini. Pemerintah harus menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia. Memang wilayah Indonesia hampir semuanya kepulauan dan banyak terdapat hutan-hutan di berbagai daerah. Hal ini juga mungkin menyebabkan pemerintah sulit untuk mengawasi atau mengontrol pengolahan hutan di Indonesia yang sangat banyak ini. Tetapi, hal tersebut bukan merupakan alasan bagi pemerintah untuk tidak mengatasi masalah kebakaran hutan ini dan mencegah terjadinya kembali bencana tersebut. Tindakan preventif dan represif juga harus dilakuan dengan lebih baik lagi. Khususnya tindakan pencegahan, apalagi pada musim kemarau dimana hutan-hutan kering dan mudah tersulut api atau panas yang menyebabkan kebakaran hutan. Kebakaran hutan banyak yang merupakan akibat dari ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab, hal tersebut dapat terjadi karena adanya kelonggaran dalam melakukan hal tersebut. Artinya, kurangnya pengawasan oleh aparat yang berwenang dalam menjaga keamanan hutan dari tangan-tangan jahat manusia. Kelonggaran pengawasan tersebut dapat terjadi karena kurang adanya koordinasi antara pemerintah dengan aparat yang berwenang. Kurang adanya kerja sama yang baik antara pemerintah dengan aparat. Pemerintah terkesan kurang peduli atau kurang menangani masalah kebakaran hutan ini sehingga terjadi berkali-kali dan belum ada penyelesaian yang jelas mengenai hal ini. Belum adanya tindakan yang kongkret dati pemerintah untuk mengatasi masalah ini. Padahal kerugian yang dialami akibat dari bencana ini sudah meluas hingga mencapai ke arah global. Hukuman yang diberikan kepada mereka yang melanggar aturan eksploitasi hutan juga harus lebih diperjelas lagi dalam pelaksanaannya. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk senantiasa menjaga kelestarian hutan juga sangat perlu ditingkatkan.

Andi Dicky Pradipta (E34100025)

Mahasiswa S1 Departemen KSHE

Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor